Back

Cara Menghitung Food Cost Menu Ayam per Porsi untuk Restoran

Food cost menu ayam dapat dihitung dengan membagi total biaya bahan untuk satu porsi dengan harga jual menu, kemudian mengalikannya dengan 100%. Namun, untuk mendapatkan angka yang lebih akurat, restoran tidak cukup hanya memasukkan harga beli ayam. Gramasi, bagian yang dapat digunakan, susut produksi, bumbu, nasi, saus, dan bahan pendamping juga perlu dihitung.

Perhitungan ini membantu restoran mengetahui berapa biaya bahan yang benar-benar digunakan untuk menghasilkan satu porsi dan bagaimana perubahan harga ayam memengaruhi biaya menu.

Jawaban singkat: Rumus food cost menu adalah total biaya bahan per porsi ÷ harga jual × 100%. Jika satu menu membutuhkan biaya bahan Rp15.800 dan dijual Rp50.000, food cost-nya adalah 31,6%. Angka tersebut belum menunjukkan laba bersih karena biaya tenaga kerja, sewa, utilitas, pajak, dan biaya operasional lainnya belum diperhitungkan.

Seluruh angka harga dan yield dalam contoh artikel ini bersifat ilustratif untuk menjelaskan cara perhitungan, bukan harga pasar atau standar baku untuk setiap restoran.

Cara menghitung food cost menu ayam per porsi

Apa Itu Food Cost dalam Bisnis Restoran?

Food cost adalah biaya bahan makanan yang digunakan untuk menghasilkan menu yang dijual. Pada tingkat menu, food cost biasanya dihitung per porsi agar restoran mengetahui berapa bagian dari harga jual yang digunakan untuk membayar bahan baku.

Ada dua angka yang perlu dibedakan:

  • Biaya makanan per porsi: jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk seluruh bahan dalam satu porsi.
  • Food cost percentage: persentase biaya bahan tersebut dibandingkan dengan harga jual menu.

Misalnya, satu menu memiliki biaya bahan Rp15.000 dan dijual Rp50.000. Biaya per porsinya tetap Rp15.000, sedangkan food cost percentage-nya adalah 30%.

Keduanya berguna, tetapi menjawab pertanyaan yang berbeda. Biaya per porsi menunjukkan berapa uang yang digunakan untuk bahan, sedangkan persentase membantu membandingkan biaya tersebut dengan nilai penjualan menu.

Apa Rumus Food Cost per Porsi?

Gunakan rumus berikut:

Food Cost (%) = Total Biaya Bahan per Porsi ÷ Harga Jual × 100%

Sebelum menghitung persentasenya, seluruh komponen menu harus dihitung terlebih dahulu.

Misalnya:

KomponenBiaya per porsi
AyamRp9.000
NasiRp2.500
Saus dan bumbuRp2.000
Sayur dan garnishRp1.500
Minyak dan bahan pendukungRp800
TotalRp15.800

Jika harga jual menu tersebut Rp50.000:

Rp15.800 ÷ Rp50.000 × 100% = 31,6%

Food cost menu tersebut adalah 31,6%.

Cara Menghitung Biaya Ayam per Porsi

Ayam sering menjadi salah satu komponen biaya terbesar pada menu berbasis ayam. Karena itu, perhitungan sebaiknya dimulai dari bahan utama ini.

Cara menghitungnya bergantung pada apakah restoran menggunakan ayam fillet, ayam parting, atau ayam yang masih memerlukan pemotongan dan trimming di dapur.

Menghitung Ayam Fillet Berdasarkan Gramasi

Jika ayam fillet dapat digunakan langsung sesuai gramasi resep, gunakan rumus:

Biaya ayam per porsi = harga ayam per kg ÷ 1.000 × gramasi per porsi

Misalnya harga beli fillet dalam contoh adalah Rp48.000 per kg dan setiap porsi menggunakan 150 gram:

Rp48.000 ÷ 1.000 = Rp48 per gram

Rp48 × 150 gram = Rp7.200

Biaya ayam secara matematis adalah Rp7.200 per porsi sebelum mempertimbangkan trimming atau bagian yang tidak digunakan.

Menghitung Ayam Parting Berdasarkan Jumlah Porsi

Untuk ayam parting yang disajikan satu potong per porsi, perhitungan dapat menggunakan jumlah potongan yang benar-benar dapat dijual.

Biaya ayam per porsi = total biaya ayam ÷ jumlah porsi yang dapat dijual

Misalnya total pembelian ayam parting untuk satu produksi adalah Rp560.000 dan menghasilkan 80 potong yang memenuhi standar menu:

Rp560.000 ÷ 80 = Rp7.000 per porsi

Jangan membagi biaya hanya berdasarkan jumlah ekor. Jumlah parting dan berapa potong yang benar-benar dapat digunakan sebagai porsi jual harus diperhitungkan.

Untuk memilih jumlah potongan yang sesuai, lihat panduan ayam parting 4, 8, 10, atau 12 untuk usaha.

Kenapa Yield Perlu Dihitung?

Penimbangan gramasi ayam fillet untuk menghitung food cost

Harga beli per kilogram belum tentu sama dengan biaya bahan yang benar-benar dapat digunakan.

Jika sebagian produk harus dibuang saat trimming atau proses persiapan, restoran sebenarnya membayar bagian yang digunakan sekaligus bagian yang tidak masuk ke porsi jual.

Untuk itu, gunakan konsep yield atau persentase hasil yang dapat digunakan.

Yield (%) = berat yang dapat digunakan ÷ berat awal × 100%

Misalnya restoran membeli 1 kg ayam seharga Rp48.000. Setelah trimming, produk yang dapat digunakan adalah 800 gram.

800 gram ÷ 1.000 gram × 100% = 80%

Yield produk tersebut adalah 80%.

Biaya sebenarnya untuk setiap kilogram bagian yang dapat digunakan menjadi:

Biaya per kg usable = harga beli ÷ persentase yield

Rp48.000 ÷ 0,80 = Rp60.000 per kg usable

Jika satu porsi membutuhkan 150 gram bagian yang dapat digunakan:

Rp60.000 ÷ 1.000 × 150 = Rp9.000

Tanpa memperhitungkan yield, biaya ayam terlihat hanya Rp7.200. Setelah trimming diperhitungkan, biaya aktual bahan yang digunakan menjadi Rp9.000 per porsi.

Apakah Yield Sama dengan Susut Setelah Dimasak?

Tidak selalu. Yield persiapan dan susut memasak sebaiknya dicatat secara terpisah.

Yield persiapan menunjukkan berapa bagian bahan mentah yang dapat digunakan setelah proses seperti trimming atau pembersihan.

Cooking yield menunjukkan berapa berat yang tersisa setelah ayam dimasak.

Jika restoran menjual menu berdasarkan berat matang, cooking yield menjadi sangat penting.

Misalnya 2 kg fillet siap masak menghasilkan 1,6 kg ayam setelah dimasak:

1,6 kg ÷ 2 kg × 100% = 80%

Jika target setiap porsi adalah 120 gram ayam matang, kebutuhan ayam siap masak per porsi adalah:

120 gram ÷ 0,80 = 150 gram

Artinya, dapur perlu menyiapkan sekitar 150 gram ayam sebelum dimasak untuk menghasilkan 120 gram setelah proses memasak dalam contoh tersebut.

Angka 80% hanyalah hasil ilustrasi. Restoran sebaiknya melakukan uji produksi sendiri karena jenis produk, ukuran potongan, resep, peralatan, suhu, dan metode memasak dapat menghasilkan yield yang berbeda.

Contoh Lengkap Menghitung Food Cost Menu Ayam

Misalnya sebuah restoran menjual chicken rice bowl. Restoran sudah melakukan uji produksi dan menentukan kebutuhan bahan berikut untuk satu porsi.

BahanDasar perhitunganBiaya per porsi
Ayam fillet150 gram usableRp9.000
Nasi1 porsiRp2.500
Saus dan bumbu1 porsiRp2.000
Sayur dan garnish1 porsiRp1.500
Minyak dan bahan pendukung1 porsiRp800
Total biaya bahanRp15.800

Harga jual menu adalah Rp50.000.

Maka:

Rp15.800 ÷ Rp50.000 × 100% = 31,6%

Food cost menu adalah 31,6%.

Angka tersebut bukan margin keuntungan bersih sebesar 68,4%. Sisa dari harga jual masih harus menanggung biaya lain seperti tenaga kerja, sewa, listrik, gas, pemasaran, peralatan, sistem pembayaran, pajak, diskon, dan biaya operasional lainnya.

Bagaimana Menentukan Harga Jual dari Food Cost?

Jika restoran sudah memiliki target food cost internal, rumus dapat dibalik:

Harga jual berdasarkan target food cost = biaya bahan per porsi ÷ target food cost

Misalnya total biaya bahan adalah Rp15.800 dan restoran menetapkan target internal 32%:

Rp15.800 ÷ 0,32 = Rp49.375

Hasil tersebut dapat menjadi salah satu titik awal evaluasi harga jual.

Namun, jangan menggunakan formula tersebut sebagai satu-satunya metode menentukan harga. Restoran tetap perlu mempertimbangkan biaya operasional, harga kompetitor, positioning menu, daya beli pelanggan, pajak, promo, dan target keuntungan.

Bagaimana Perubahan Harga Ayam Memengaruhi Food Cost?

Perubahan harga bahan utama dapat langsung mengubah biaya setiap porsi, terutama pada menu dengan proporsi ayam yang besar.

Gunakan contoh sebelumnya: restoran memerlukan 150 gram ayam usable per porsi dan yield persiapannya 80%.

Untuk mendapatkan 150 gram usable, kebutuhan bahan beli adalah:

150 gram ÷ 80% = 187,5 gram

Dampak beberapa harga beli dapat dibandingkan sebagai berikut:

Harga ayam per kgKebutuhan beli per porsiBiaya ayam per porsi
Rp48.000187,5 gramRp9.000
Rp52.000187,5 gramRp9.750
Rp56.000187,5 gramRp10.500

Kenaikan dari Rp48.000 menjadi Rp56.000 per kg meningkatkan biaya ayam sebesar Rp1.500 untuk setiap porsi dalam contoh tersebut.

Jika restoran menjual 1.000 porsi, selisih biaya bahan ayam menjadi:

Rp1.500 × 1.000 = Rp1.500.000

Karena itu, dampak perubahan harga supplier sebaiknya dihitung pada level per porsi dan volume penjualan, bukan hanya dilihat sebagai selisih harga per kilogram.

Ayam Parting atau Fillet: Mana yang Lebih Efisien untuk Food Cost?

Perbandingan ayam parting dan fillet untuk biaya menu restoran

Tidak ada jawaban yang selalu sama untuk setiap menu.

Fillet dapat mengurangi kebutuhan pemisahan tulang dan memudahkan standardisasi gramasi. Namun, harga beli per kilogram dapat berbeda dengan produk bertulang.

Ayam parting dapat sesuai untuk menu yang menjual satu potong ayam per pelanggan. Dalam kondisi ini, biaya lebih relevan dihitung berdasarkan jumlah porsi jual daripada hanya berat kilogram.

AspekAyam PartingAyam Fillet
Dasar porsiJumlah potongGramasi
TulangUmumnya termasukTidak termasuk
Standardisasi gramasiDipengaruhi bagian ayamLebih mudah ditimbang
Cocok untukAyam goreng, bakar, nasi boxRice bowl, grill, tumisan, olahan
Metode costing utamaBiaya per potong jualBiaya per gram usable

Untuk menentukan produk yang lebih efisien, hitung biaya bahan yang benar-benar menghasilkan satu porsi yang memenuhi standar menu.

Apa Perbedaan Food Cost Menu dan Actual Food Cost Restoran?

Food cost per menu bersifat teoritis karena dihitung berdasarkan resep dan standar porsi. Dalam operasional sehari-hari, restoran juga perlu menghitung actual food cost.

Actual food cost menggunakan nilai persediaan dan pembelian selama periode tertentu.

Rumus biaya bahan yang digunakan atau cost of goods sold (COGS) adalah:

COGS = Persediaan Awal + Pembelian – Persediaan Akhir

Kemudian:

Actual Food Cost (%) = COGS ÷ Penjualan Makanan × 100%

Contoh:

  • Persediaan awal: Rp8.000.000
  • Pembelian: Rp18.000.000
  • Persediaan akhir: Rp6.000.000

Maka:

Rp8.000.000 + Rp18.000.000 – Rp6.000.000 = Rp20.000.000

Jika penjualan makanan selama periode tersebut Rp70.000.000:

Rp20.000.000 ÷ Rp70.000.000 × 100% = 28,6%

Actual food cost restoran dalam contoh adalah 28,6%.

Perbedaan antara biaya teoritis berdasarkan resep dan biaya aktual dapat menjadi sinyal untuk memeriksa waste, overportioning, perubahan harga bahan, kesalahan stok, promo, atau ketidakkonsistenan produksi.

Cara Menjaga Food Cost Menu Ayam Lebih Konsisten

Food cost tidak hanya dikendalikan melalui harga beli termurah. Konsistensi spesifikasi dan proses produksi juga berpengaruh.

Tentukan Gramasi atau Ukuran Porsi

Gunakan timbangan atau standar potongan agar porsi tidak berbeda terlalu jauh antar pesanan.

Tetapkan Spesifikasi Ayam

Untuk ayam parting, tentukan jumlah potongan dan rentang berat. Untuk fillet, tentukan jenis fillet serta gramasi yang dibutuhkan.

Catat Yield Aktual

Jangan terus menggunakan asumsi yield jika hasil produksi sudah tersedia. Catat berapa kilogram bahan yang diterima, digunakan, dan menjadi produk akhir.

Perbarui Harga Bahan

Recipe costing yang masih menggunakan harga beberapa bulan lalu dapat memberikan angka food cost yang tidak lagi relevan.

Evaluasi Waste

Catat bahan yang rusak, terbuang, salah masak, atau tidak dapat dijual. Waste yang tidak tercatat membuat selisih antara food cost teoritis dan aktual semakin sulit dijelaskan.

Hitung Berdasarkan Volume

Selisih Rp500 atau Rp1.000 per porsi terlihat kecil, tetapi dampaknya dapat signifikan ketika menu terjual ratusan atau ribuan kali.

Data Apa yang Perlu Disampaikan kepada Supplier Ayam?

Pemeriksaan berat pesanan ayam dari supplier restoran

Spesifikasi yang jelas membantu restoran menjaga konsistensi produk sekaligus membuat food cost lebih mudah diprediksi.

Saat melakukan pemesanan, sampaikan:

  • Jenis produk yang dibutuhkan
  • Ayam segar atau frozen
  • Rentang berat ayam
  • Jumlah parting jika menggunakan ayam potong
  • Jenis fillet jika menggunakan produk tanpa tulang
  • Kebutuhan dalam kilogram atau ekor
  • Volume rata-rata setiap pemesanan
  • Frekuensi pengiriman
  • Spesifikasi kemasan
  • Kebutuhan potongan custom jika diperlukan

Ayamitra menyediakan berbagai produk ayam untuk kebutuhan bisnis yang dapat disesuaikan dengan proses produksi restoran, katering, dan usaha kuliner.

Untuk memperkirakan volume pemesanan, Anda juga dapat menggunakan panduan cara menghitung kebutuhan ayam untuk 100 porsi.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung Food Cost Ayam

Beberapa kesalahan berikut dapat membuat biaya menu terlihat lebih rendah atau lebih tinggi daripada kondisi sebenarnya:

  • Hanya menghitung harga ayam dan melupakan bahan pendamping
  • Menggunakan harga beli lama
  • Tidak memperhitungkan trimming dan yield
  • Menyamakan berat mentah dengan berat matang
  • Tidak menetapkan gramasi per porsi
  • Menghitung ayam parting hanya berdasarkan kilogram
  • Tidak mencatat produk yang terbuang
  • Menganggap food cost sama dengan laba atau margin bersih
  • Menggunakan satu target persentase untuk seluruh jenis menu tanpa evaluasi

Perhitungan yang baik harus dapat ditelusuri kembali ke harga pembelian, resep, gramasi, yield, dan jumlah produk yang benar-benar dijual.

Checklist Menghitung Food Cost Menu Ayam

  • □ Gunakan harga bahan terbaru
  • □ Catat gramasi setiap bahan per porsi
  • □ Hitung yield jika ada trimming atau bagian yang tidak digunakan
  • □ Bedakan berat mentah dan matang
  • □ Masukkan bumbu, saus, garnish, dan bahan pendamping
  • □ Jumlahkan seluruh biaya bahan per porsi
  • □ Bandingkan dengan harga jual menu
  • □ Catat perubahan harga supplier
  • □ Bandingkan food cost teoritis dengan actual food cost
  • □ Evaluasi kembali ketika resep, porsi, atau harga bahan berubah

Kesimpulan

Cara menghitung food cost menu ayam dimulai dengan menentukan biaya bahan yang benar-benar digunakan untuk satu porsi. Untuk fillet, gunakan gramasi dan yield. Untuk ayam parting, hitung berdasarkan jumlah potongan yang dapat dijual sebagai porsi.

Setelah biaya ayam diketahui, tambahkan nasi, bumbu, saus, sayur, minyak, dan seluruh bahan lain yang masuk ke menu. Total biaya bahan kemudian dibagi dengan harga jual untuk mendapatkan food cost percentage.

Jangan berhenti pada persentase tersebut. Bandingkan recipe cost dengan actual food cost restoran dan evaluasi perubahan harga, yield, waste, serta konsistensi porsi secara berkala.

Untuk mendiskusikan jenis ayam, ukuran, potongan, volume, dan jadwal pengiriman sesuai kebutuhan usaha, silakan minta penawaran dari Ayamitra.

Pertanyaan Umum tentang Food Cost Menu Ayam

Bagaimana cara menghitung food cost per porsi?

Jumlahkan seluruh biaya bahan yang digunakan dalam satu porsi, kemudian bagi dengan harga jual menu dan kalikan 100%. Contohnya, biaya bahan Rp15.000 dengan harga jual Rp50.000 menghasilkan food cost 30%.

Apakah harga ayam per kilogram bisa langsung digunakan untuk menghitung food cost?

Bisa jika seluruh produk dapat digunakan sesuai gramasi resep. Jika terdapat trimming, tulang, atau bagian yang tidak digunakan, hitung yield terlebih dahulu agar biaya bahan per porsi lebih akurat.

Apakah food cost 30% selalu ideal untuk restoran?

Tidak. Tidak ada satu angka yang otomatis ideal untuk semua restoran. Target food cost perlu disesuaikan dengan konsep usaha, biaya tenaga kerja, overhead, harga jual, komposisi menu, dan target keuntungan.

Apa perbedaan food cost dan HPP per menu?

Biaya atau HPP bahan per menu menunjukkan jumlah rupiah yang digunakan untuk menghasilkan satu porsi, sedangkan food cost percentage menunjukkan biaya tersebut sebagai persentase dari harga jual menu.

Seberapa sering food cost perlu dihitung ulang?

Food cost sebaiknya dievaluasi ketika harga bahan, resep, gramasi, supplier, atau harga jual berubah. Restoran dengan perubahan harga bahan yang sering juga dapat melakukan review secara berkala menggunakan data pembelian dan penjualan terbaru.